Connect with us

Pilgub Jabar 2018

Pak Dedi Mulyadi, Pohon Kok Dikasih Kain?

Published

on

akhmad syaikhu

Moderator:

Bapak bapak calon gubernur dan calon wakil gubernur, sesi ini akan di dedikasikan untuk saling berdebat antar dua pasangan calon, saya akan memberikan kesempatan pada dua pasang calon untuk bertanya, jadi ada satu pasang calon bertanya, lalu ditanggapi, dan di debat lagi, lalu adu argumentasi.

Yang memberikan pertanyaan selama 30 second, lalu dijawab selama 1 menit, dijawab lagi 1 menit dan dikembalikan lagi selama 30 detik.
Tapi tidak apa apa, untuk waktu saya akan mengingatkan pada anda. Saya akan mulai kesempatan pada pasangan nomor urut 3.

Pak Sudrajat dan pak Syaikhu, Memberikan Pertanyaan Yang ANDA ANGGAP PENTING, dan relevan untuk masyarakat jawa barat dan mendengarkan apa jawaban mereka, dan apa tawaran yang lebih baik yang menurut anda bisa diberikan untuk masyarakat Jawa Barat.

Jadi pertanyaan dari pasangan nomor urut 3 dan kemudian nanti di jawab ditanggapi dan ditanggapi lagi.
Clear semua bapak bapak? , kita bisa mulai?
Saya berikan kesempatan 30 detik untuk bertanya pada pasangan calon nomor 4 dimulai dari sekarang.

 

Syaikhu:

Pak.. Pasangan Nomor 4, pak Deddy – Dedi ya, saya ingin bertanya satu hal yang simple saja barangkali ya.

Bahwa a.. dalam kaitan-kaitan dengan membangun perekonomian, tidak semata mata ekonomi an sich gitu ya, tapi ada dampak juga kaitan dengan lingkungan, saya melihat di KOTA PURWAKARTA, banyak sekali pohon-pohon itu yang ditutup dengan kain, aa.. ya.. a.. ini kan kenapa seperti itu?

Catatan Redaksi:

  • An Sich adalah sebuah istilah dari bahasa Jerman yang secara harfiah berarti: “pada dirinya sendiri”, “pada hakekatnya” atau “harafiah”
  • Purwakarta itu Kabupaten dan bukan Kota

Moderator:

Baik, saya tangkap, saya rasa sudah ditangkap pertanyaannya, satu menit untuk memberikan jawaban.


Deddy Mulyadi:

Baik, pertanyaannya cukup sederhana, kenapa di purwakarta pohon dikasih kain?. Pohon dikasih kain maka tidak akan ada yg paku, tidak yang bikin iklan yang ada di situ, lebih mulia pohon dikasih kain dibanding pohon dipakuin dipasangin iklan “SEDOT TINJA”.

Ilmu lingkungan mengajarkan proses perlindungan, proses memuliakan, pohon memberikan energi bagi lingkungan, memberikan air sebagai penyerapan dalam tanahnya, kemudian menghasilkan oksigen di atasnya.

Maka menyarungi pohon adalah bagian dari kebudayaan memuliakan pohon,  yang derajatnya lebih tinggi dibanding orang yang menebang pohon dimana-mana.

Konsepsi itu merupakan bagian dari strategis, itu adalah ajaran dari system kebudayaan kita, di kebudayaan kita kalau pete nya pingin berbuah maka di ikatlah dengan tali yang terbuat dari bambu.

Pohon dikasih kain lebih utama dibandingkan pohon ditebang hanya untuk kepentingan ekonomi.


Moderator:

Pak, saya berikan satu menit mengapa anda menanyakan ini dan apa tawaran yang lebih baik dari anda.


Syaikhu:

Ya.. menurut saya apa namanya ini agak ironis, pada satu sisi pohon diberi kain sementara anak-anak itu kekurangan kain sampai mereka nggak pakai celana.

satu hal yang sangat ironis, ditenteng-tenteng, nggak pakai kain, nggak pakai apa apa, ini sebuah hal yang sangat ironis, oleh karena itu kalau kita ingin memuliakan pohon saja dimuliakan, bagaimana mungkin manusia tidak dimuliakan.

Maka dalam pandangan kami pasangan Asyik, bahwa memuliakan manusia jauh lebih terhormat ketimbang memuliakan pohon, oleh karena itu pasangan kami rasanya kebijakan-kebijakan sebenarnya kurang tepat, apalagi nanti diberlakukan se jawa barat,  berapa banyak pohon yang harus diberi kain, akhirnya semua kekurangan kain.

Oleh karena itu kami sepakat kalau sekiranya pemuliaan manusia ini di dahulukan daripada pemuliaan terhadap yang lain.

Tentu kita juga tidak menafikkan, bahwa lingkungan adalah menjadi hal yang harus diperhatikan oleh kita semua umat beragama.


Moderator:

Ya, 30 detik pak dedi untuk menanggapi


Dedi Mulyadi:

Yang pertama adalah tunjukkan di purwakarta ada anak anak yang tidak kebagian kain. Setiap hari jumat anak anak di purwakarta pergi ke sekolah menggunakan kain sarung, dan hampir semua memiliki kain sarung yang baik.

Yang kedua, tidak ada relevansi  antara meletakkan kain pohon di purwakarta, dengan kebijaan di propinsi jawa barat, karena jadi gubernur dan wakil gubernur tidak ngurusin pohon, dia ngurusin kebijakan anggaran yang menyeluruh di seluruh kabupaten kota di jawa barat, terimakasih.


Catatan Redaksi:

  1. Kami duga mungkin yang dimaksud Akhamad Syaikhu dengan anak-anak kekurangan kain dan ditenteng-tenteng nggak pakai kain adalah pada saat event pagelaran Kesenian Genye di Kabupaten Purwakarta, Genye singkatan dari Gerakan Nyere adalah kesenian hasil karya seniman Purwakarta yang mengedepankan unsur tradisional karena bahan yang digunakan untuk membuatnya adalah seperti nyere (sapu lidi), ayakan, injuk, dll. Informasi lebih lengkap tentang Kesenian Genye bisa merujuk ke artikel ini: https://www.kompasiana.com/bayubp/kesenian-genye-purwakarta-jawa-barat_56c60251e222bde40baf7eb0

 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *