Connect with us

Sate Hadori Bandung

Published

on

Di sudut stasiun Hall Bandung ada sebuah warung sate bernama Sate Hadori. disini terdapat dua pintu, kita bisa masuk lewat pintu yang mana saja. Di depan pintu ada pemilik warung sate yang sedang menyiapkan sate pesanan untuk dibakar. Kita bisa memesan langsung di sini.

sate hadori

Sate Hadori memiliki ¡risannya daging yang besar-besar. Selain ¡tu satenya dipersiapkan sesaat akan dibakar. Jadi dagingnya pun masih segar. Walaupun ¡risannya tebal, tapi daging kambing di sini sangat lembut dan mudah dimakan. Di sini ada beberapa pilihan sate yang bisa dipesan. Yaitu sate kambing, sate ati kambing, sate ayam dan sate sapi.

Sate akan dihidangkan dalam piring disertai sepiring kecil sambal kecap plus irisan bawang dan cabe sefta sepiring kecil sambal kacang. Karena irisan daging di smi besar, jadi sebenarnya 5 tusuk sate atau 1/2 porsi saja sudah cukup untuk satu orang.

sate hadori bandung

Untuk nasi kita akan diberikan satu bakul kecil untuk satu atau dua orang. Di sate hadori ini ada juga gule kambing. Isinya adaiah jeroan dan daging berlemak. Kuahnya mirip kuah tengkleng di Jawa karena tidak begitu kentai. Satu mangkuk gule kambing juga bisa dinikmati untuk dua orang karena porsi nya yang cukup banyak.

Warung sate Hadori ¡ni buka setiap hari dari setelah subuh dan tutup hingga malam hari sekitar jam 2 pagi. Bahkan kata si pemilik warung sate ini, seringkali warung sate Hadori buka hingga 24 jam. Jadi bagi yang kelaparan malam-malam di Bandung bisa datang ke sini. Atau bagi yang ¡ngin
sarapan pagi bisa datang ke sate hadori ini.

Selain satenya yang enak dengan irisan besar, sate Hadori juga terkenal karena sudah ada sejak jaman penjajahan Jepang dulu, sekitar tahun 1940. Wawan Hadori, pemilik warung sate Hadori yang sekarang adalab generasi ketiga. Usaha sate Hadori ¡ni berawal dari nenek Una dan kakek Inung yang sering mengungsi dan berpindah tempat ketika masa pendudukan Jepang dulu. Di pengungsian inilah keduanya berjualan sate karena saat ¡tu membuat sate adalah cara berjualan yang mudah.

Tahun 1940, ketika kakek Inung dan nenek Una mengungsi ke Garut, keduanya membuka kios dan menjual sate di Pasar Baru Garut, Di tahun 1950 an keduanya mengungsi ke Tegalega dan jualan sate mereka pun pindah ke Tegalega. Tidak lama kemudian keduanya pindah berjualan ke Stasiun Bandung hingga menempati sebuah kios
berukuran 4X4 m.

Masa kejayaan sate Inung pada tahun 1961. Hingga akhirnya tahun 1962, kakek Inung meninggal. Usaha pun dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Hadori. Nama warung sate itupun berganti dengan nama “Sate Hadori”. Ketika Hadori menjadi ketua pedagang stasiun, kios sate ¡ni pun diperluas hingga menempati empat petak kios dengan ukuran keseluruhan 16 X 4 meter.

 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *